Minggu, 21 Oktober 2012

Menjaga Kemabruran Haji



 MEMPERTAHANANKAN KEMABRURAN KEPADA “SEMUT”
Kata Mabrur  senada dengan kata al Birru, kata mabrur  berasal dari akar kata mabaarur yang berarti diterima karena memenuhi Syarat dan rukunnya, derajat mabrur hanya Allah yang memutuskannya , bukan baju atau peci hajinya , Karenanya kemabruran sangat tinggi nilai dan derajat kemabruran pahalanya sangat mulia, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi SAW bahwa “Haji mabrur pahalanya tidak lain adalah sorga “. ( HR. Ahmad dan Thobroni ).
Pada dasarnya Haji adalah ibadah, namun banyak para Hujjaj setelah pulang ke tanah air menjadi terjebak dengan status kehajjiannya, menjadikan haji sebagai penambahan gelar di depan namanya sekedar untuk menaikkan status sosial keagamaan sehingga tindakan  kesolihannya dari apa adanya menjadi diatas keberadaanya,
Dalam “Kasful Ghammah “ yang disadur Sururudin , suatu saat ditanyakan kepada Rasul tentang cirri kemabruran haji, dikatakan bahwa:“Wahai Rasulullah apakah (tanda) kemabruran haji itu ? Beliau bersabda : Memberi makanan (bantuan sosial, kedermawanan), baik ucapan (lemah lembut, tidak kasar, arogan), dan menebarkan kedamaian (mencari banyak teman untuk kebaikan dan menghilangkan permusuhan)”,Apabila kita bercermin pada aspek kehidupan sosial semut si hewan kecil yang sering berkonvoi melewati kehidupan manusia maka diperoleh makna hikmah kehidupan luhur, diantaranya adalah:
1.Semut saat berjalan dan bertemu dengan sesama semut selalu menempelkan kepala dan
   sungutnya tanpa memperhatikan status sosialnya.

Memberikan analog bahwa  hendaknya seorang hujjaj mabrur ketika kembali ke masyarakat menjadi lebih tawadluk, berusaha mendahului menyapa,bersalaman atau menebarkan kedamaian kepada masyarakat sosialnya, baik yang menghargai kehajjiannya dengan memanggil “Hajji “ maupun masyarakat yang tetap memanggil sebutan yang sama dengan sebelum hajji, maka menjadi sangat ironi jika sepulang hajji semua orang wajib memanggilnya haji, panggilan adalah kehormatan tidak dapat dipaksakan tumbuh karena karisma dan kepribadian
2.Semut saat mendapatkan rizki  mengajak komunitasnya untuk bersama-sama
   menjalankan ihtiyar dengan cara mendorong bersama dari berbagai sisi dan
   menimatinya bersama-sama tanpa membedakan kroni dan keturunannya.

Memberikan hikmah kepada manusia termasuk didalamnya para hujjaj hendaknya dengan kemabruran yang dimilikinya semakin meningkat pula kedermawanan dan sikap empati sosialnya karena nilai pengorbanan dan perasaan kecilnya saat berada di rumah Allah hendaknya mampu menghancurkan kesombongan dan egoisme sehingga kemabruranya membawa berkah bagi umat di sekelilingnya.
3.Semut saat memakan sisa rizki manusia selalu bersembunyi pada tempat yang aman dan
  terlindungi.

Memberikan tarbiyah kepada para Hujjaj, hendaknya setelah berhaji dapat meningkat sikap wirainya yaitu dengan cara bersikap hati-hati dalam memanfaatkan rizki Allah, lebih selektif kehalalan dan kesubhatanya,tidak makan di sembarang tempat, sehingga tumbuh uswah dari para Hujjaj kepada umatnya.


4.Semut tidak pernah menyerang kecuali komunitas dan keberadaanya terancam oleh
   mahluk lain.

Memberikan ilham bahwa setelah melontar jumrah hendaknya para Hujjaj menjaga kesucian jiwanya dengan cara lebih berhati-hati dalam bertutur kata terutama pada awal kedatanganaya seringkali agar terlihat solih kepada para penjenguk haji, maka secara tidak sadar para Hujjaj banyak cerita yang di bumbui dengan kisah arealita  karenanya berkaiatan dengan sikap haji mabrur ini Rasulluloh bersabda: “Memberi makanan dan berkata baik” (HR Ahmad, Thabrany, Ibnu Khuzaimah, Al Baihaqi dan al Hakim) .
Semoga Para Hujjaj setelah kembali ketanah air dapat mempertahankan kemuliaan dan kemambrurannya sehingga muslim sekitarnya mempunyai banyak teladan dari perilaku dan contoh kehidupan hajji yang mabrur, dan semoga kita dapat lebih baik dari koloni kehidupan “semut”, Aminn ( Saifudin Zuhri.M.Pd, Guru MTSN 16 Jakarta )
Contact: 081287039829






Tidak ada komentar:

Posting Komentar