MEMPERTAHANANKAN KEMABRURAN KEPADA “SEMUT”
Kata
Mabrur senada dengan kata al Birru, kata
mabrur berasal dari akar kata
mabaarur yang berarti diterima karena memenuhi Syarat dan rukunnya, derajat
mabrur hanya Allah yang memutuskannya , bukan baju atau peci hajinya , Karenanya
kemabruran sangat tinggi nilai dan derajat kemabruran pahalanya sangat mulia,
sebagaimana ditegaskan oleh Nabi SAW bahwa “Haji
mabrur pahalanya tidak lain adalah sorga “. ( HR. Ahmad dan Thobroni ).
Pada dasarnya Haji adalah ibadah, namun banyak para Hujjaj
setelah pulang ke tanah air menjadi terjebak dengan status kehajjiannya, menjadikan
haji sebagai penambahan gelar di depan namanya sekedar untuk menaikkan status
sosial keagamaan sehingga tindakan kesolihannya dari apa adanya menjadi diatas
keberadaanya,
Dalam “Kasful Ghammah “ yang disadur Sururudin , suatu saat
ditanyakan kepada Rasul tentang cirri kemabruran haji, dikatakan bahwa:“Wahai
Rasulullah apakah (tanda) kemabruran haji itu ? Beliau bersabda : Memberi
makanan (bantuan sosial, kedermawanan), baik ucapan (lemah lembut, tidak kasar,
arogan), dan menebarkan kedamaian (mencari banyak teman untuk kebaikan dan
menghilangkan permusuhan)”,Apabila kita bercermin pada aspek kehidupan sosial
semut si hewan kecil yang sering berkonvoi melewati kehidupan manusia maka
diperoleh makna hikmah kehidupan luhur, diantaranya adalah:
1.Semut saat berjalan dan bertemu dengan
sesama semut selalu menempelkan kepala dan
sungutnya tanpa memperhatikan status
sosialnya.
Memberikan analog
bahwa hendaknya seorang hujjaj mabrur
ketika kembali ke masyarakat menjadi lebih tawadluk, berusaha mendahului
menyapa,bersalaman atau menebarkan kedamaian kepada masyarakat sosialnya, baik
yang menghargai kehajjiannya dengan memanggil “Hajji “ maupun masyarakat yang
tetap memanggil sebutan yang sama dengan sebelum hajji, maka menjadi sangat
ironi jika sepulang hajji semua orang wajib memanggilnya haji, panggilan adalah
kehormatan tidak dapat dipaksakan tumbuh karena karisma dan kepribadian
2.Semut saat mendapatkan rizki mengajak komunitasnya untuk bersama-sama
menjalankan
ihtiyar dengan cara mendorong bersama dari berbagai sisi dan
menimatinya
bersama-sama tanpa membedakan kroni dan keturunannya.
Memberikan hikmah
kepada manusia termasuk didalamnya para hujjaj hendaknya dengan kemabruran yang
dimilikinya semakin meningkat pula kedermawanan dan sikap empati sosialnya karena
nilai pengorbanan dan perasaan kecilnya saat berada di rumah Allah hendaknya
mampu menghancurkan kesombongan dan egoisme sehingga kemabruranya membawa
berkah bagi umat di sekelilingnya.
3.Semut saat memakan sisa rizki manusia selalu
bersembunyi pada tempat yang aman dan
terlindungi.
Memberikan tarbiyah
kepada para Hujjaj, hendaknya setelah berhaji dapat meningkat sikap wirainya
yaitu dengan cara bersikap hati-hati dalam memanfaatkan rizki Allah, lebih
selektif kehalalan dan kesubhatanya,tidak makan di sembarang tempat, sehingga
tumbuh uswah dari para Hujjaj kepada umatnya.
4.Semut tidak pernah menyerang kecuali
komunitas dan keberadaanya terancam oleh
mahluk lain.
Memberikan ilham bahwa
setelah melontar jumrah hendaknya para Hujjaj menjaga kesucian jiwanya dengan
cara lebih berhati-hati dalam bertutur kata terutama pada awal kedatanganaya
seringkali agar terlihat solih kepada para penjenguk haji, maka secara tidak
sadar para Hujjaj banyak cerita yang di bumbui dengan kisah arealita karenanya berkaiatan dengan sikap haji mabrur
ini Rasulluloh bersabda: “Memberi makanan dan berkata baik” (HR Ahmad,
Thabrany, Ibnu Khuzaimah, Al Baihaqi dan al Hakim) .
Semoga
Para Hujjaj setelah kembali ketanah air dapat mempertahankan kemuliaan dan
kemambrurannya sehingga muslim sekitarnya mempunyai banyak teladan dari
perilaku dan contoh kehidupan hajji yang mabrur, dan semoga kita dapat lebih
baik dari koloni kehidupan “semut”, Aminn ( Saifudin Zuhri.M.Pd, Guru MTSN 16 Jakarta )
Contact:
081287039829
Tidak ada komentar:
Posting Komentar