PENDIDIKAN AGAMA YANG TERGADAI
(MENYONGSONG KURIKULUM BARU PASCA KTSP)
Persoalan
hasil pendidikan Agama di Indonesia saat ini demikain krusialnya. Munculnya
fenomena tawuran kekerasan, perilaku seksualitas, pornografi dan citra diri
yang jauh dari karakter solih dikalangan peserta didik merupakan catatan potret
evaluasi bagi pelaksanaan pendidikan agama di sekolah dan Madrasah.
Timbul
refleksi publik atas pertanyaan mengapa pendidikan agama tidak mampu membentuk citra
kesolihan bagi peserta didik, apakah jam yang kurang atau model pendidikan yang
memasung pendidikan Ruh ataukah pendidikan ini telah tergadai pada alur kognisi
saja?.
Untuk
menjawab keganjilan tersebut maka perlu kita sadari bersama bahwa realita layanan pendidikan agama pada pendidikan
formal dan informal belum mampu memperlihatkan
tajinya
berhadapan dengan peradaban dan gaya
hidup masyarakat yang kian mengglobal dengan segala aspek nilai positif dan
negatifnya, Konsep dosa , maksiat dan haram nampaknya belum mampu membentengi
kepribadian peserta didik yang memang sedang gandrung kepada imajiner budaya
baru, gaya baru dan teknologi baru.
Pada saat yang bersamaan,Layanan pendidikan agama pada sekolah dan Madrasah ternyata juga belum mampu memenuhi kriterium-kriterium dasar karakter pedagogik religious yang sebenarnya sudah ditanam sejak didengarkannya adzan (terlahir) ,nampaknya sistem pelaksanaan kurikulumpun belum ditafsirkan secara benar oleh guru sehingga pendidikan agama terjebak melayani produk angka berupa tuntasnya nilai KKM dibandingkan terbentuknya afektif , psikomotrik kesolihan dan pengalaman religi peserta didik.
Pada saat yang bersamaan,Layanan pendidikan agama pada sekolah dan Madrasah ternyata juga belum mampu memenuhi kriterium-kriterium dasar karakter pedagogik religious yang sebenarnya sudah ditanam sejak didengarkannya adzan (terlahir) ,nampaknya sistem pelaksanaan kurikulumpun belum ditafsirkan secara benar oleh guru sehingga pendidikan agama terjebak melayani produk angka berupa tuntasnya nilai KKM dibandingkan terbentuknya afektif , psikomotrik kesolihan dan pengalaman religi peserta didik.
Sedinamis
apapun rumusan kurikulum,seunggul apapun sebuah sekolah pendidikan agama tidak
boleh tergadai oleh tuntutan kurikulum,
karena akhir muara pendidikan Agama adalah sikap kesolihan bukan sekedar kompetensi
kognisi yang ditunjukkan dengan perolehan angka ulangan,karenanya pendidikan
Agama perlu berbenah diarahkan kepada pendidikan Agama berbasis integral:
1.Integralisasi
pembiasaan dan praktek
Peserta didik dan pubertas ibarat dua mata uang yang saling
mempengaruhi, rasa ingin tau dan niat yang menggebu untuk mencoba sesuatu yang
baru merupakan ciri khas masa pubertas, maka menjadi sebuah kewajiban bagi
pelajaran agama untuk kembali memperbanyak praktek maupun pembiasaan bersama
keteladanan guru, karena informasi kompetensi dapat bergeser melalui diskusi,
penugasan, modul maupun proyek, guru tidak lagi menjadi penceramah yang
terpandai tetapi menjadi pembimbing yang diteladani.
2.Integralisasi
penilian
Karakteristik orentasi
pendidikan agama berbeda dengan karakteristik pembelajaran matematika, dan
sains yang berpusat kepada penguasaan kompetensi yang diwakili angka penilaian,
pendidikan agama berpusat pada kompetensi pengamalan ,dan aplikasi kesolihan,
karenanya guru agama wajib merubah sistim penilaian dengan terintegrasi antara
nilai ulangan dengan nilai pengamalan, nilai pembiasaan keagamaan yang
ditargetkan guru kepada siswa dengan menyesuaikan pembagi nilai akhirnya,
melalui integralisasi ini maka pendidikan ruh dapat di drilkan secara tidak
langsung dari multi lingkungan siswa.
3.Integralisasi
Ketuntasan belajar
Konsep remedial dan
ketuntasan pendidikan agama kriterianya harus bergeser dari pakem standar
penilaian, dimana konsep tuntas harus dilihat dari nilai akhir penggabungan
beberapa aspek penilian dan pembiasaan karena sesungguhnya target pendidikan
adalah aspek manusia seutuhnya, bukan sekedar manusia tuntas nilai ulangannya.
4.Integralisasi
model pembelajaran.
Memasukkan nilai
luhur agama kedalam Jiwa kepribadian, harus mulai bergeser dari sekedar
informasi ceramah kepada pengalaman dan pelibatan langsung peserta didik,
sehingga nilai agama tidak di doktrinasikan oleh guru namun dialami, dirasakan
dan dilakukan dengan suasana hati peserta didik, sehingga agama tidak dirasakan
sebagai dongeng tetapi dirasakan sebagai nilai yang dirasakan dan diyakini
kebenarannya.
Dengan penerapan
integralisasi pendidikan agama ini, maka tujuan pendidikan agama tidak tergadaikan
sekedar mendapatkan ketuntasan nilai agama, namun agama menjadi dirasakan ,
dialamai dan diyakini yang pada akhirnya akan membentuk pribadi”solih”, semoga.
(Drs.Saifudin Zuhri.M.Pd,I, Guru MTSN 16 Jakarta )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar