Rabu, 24 Oktober 2012



PENDIDIKAN AGAMA YANG TERGADAI
(MENYONGSONG KURIKULUM BARU PASCA KTSP)
Persoalan hasil pendidikan Agama di Indonesia saat ini demikain krusialnya. Munculnya fenomena tawuran kekerasan, perilaku seksualitas, pornografi dan citra diri yang jauh dari karakter solih dikalangan peserta didik merupakan catatan potret evaluasi bagi pelaksanaan pendidikan agama di sekolah dan Madrasah.
Timbul refleksi publik atas pertanyaan mengapa  pendidikan agama tidak mampu membentuk citra kesolihan bagi peserta didik, apakah jam yang kurang atau model pendidikan yang memasung pendidikan Ruh ataukah pendidikan ini telah tergadai pada alur kognisi saja?.
Untuk menjawab keganjilan tersebut maka perlu kita sadari bersama bahwa realita  layanan pendidikan agama pada pendidikan formal dan informal belum mampu  memperlihatkan tajinya  berhadapan dengan peradaban dan gaya hidup masyarakat yang kian mengglobal dengan segala aspek nilai positif dan negatifnya, Konsep dosa , maksiat dan haram nampaknya belum mampu membentengi kepribadian peserta didik yang memang sedang gandrung kepada imajiner budaya baru, gaya baru dan teknologi baru.
Pada saat yang bersamaan,Layanan pendidikan agama pada sekolah dan Madrasah  ternyata juga belum mampu memenuhi kriterium-kriterium dasar karakter pedagogik religious yang sebenarnya sudah ditanam sejak didengarkannya adzan (terlahir) ,nampaknya sistem pelaksanaan kurikulumpun belum ditafsirkan secara benar oleh guru sehingga pendidikan agama terjebak melayani produk angka berupa tuntasnya nilai KKM dibandingkan terbentuknya afektif , psikomotrik kesolihan dan pengalaman religi peserta didik.
Sedinamis apapun rumusan kurikulum,seunggul apapun sebuah sekolah pendidikan agama tidak boleh tergadai oleh  tuntutan kurikulum, karena akhir muara pendidikan Agama adalah sikap kesolihan bukan sekedar kompetensi kognisi yang ditunjukkan dengan perolehan angka ulangan,karenanya pendidikan Agama perlu berbenah diarahkan kepada pendidikan Agama berbasis integral:
1.Integralisasi pembiasaan dan praktek
Peserta didik  dan pubertas ibarat dua mata uang yang saling mempengaruhi, rasa ingin tau dan niat yang menggebu untuk mencoba sesuatu yang baru merupakan ciri khas masa pubertas, maka menjadi sebuah kewajiban bagi pelajaran agama untuk kembali memperbanyak praktek maupun pembiasaan bersama keteladanan guru, karena informasi kompetensi dapat bergeser melalui diskusi, penugasan, modul maupun proyek, guru tidak lagi menjadi penceramah yang terpandai tetapi menjadi pembimbing yang diteladani.
2.Integralisasi penilian
Karakteristik orentasi pendidikan agama berbeda dengan karakteristik pembelajaran matematika, dan sains yang berpusat kepada penguasaan kompetensi yang diwakili angka penilaian, pendidikan agama berpusat pada kompetensi pengamalan ,dan aplikasi kesolihan, karenanya guru agama wajib merubah sistim penilaian dengan terintegrasi antara nilai ulangan dengan nilai pengamalan, nilai pembiasaan keagamaan yang ditargetkan guru kepada siswa dengan menyesuaikan pembagi nilai akhirnya, melalui integralisasi ini maka pendidikan ruh dapat di drilkan secara tidak langsung dari multi lingkungan siswa.
3.Integralisasi Ketuntasan belajar
Konsep remedial dan ketuntasan pendidikan agama kriterianya harus bergeser dari pakem standar penilaian, dimana konsep tuntas harus dilihat dari nilai akhir penggabungan beberapa aspek penilian dan pembiasaan karena sesungguhnya target pendidikan adalah aspek manusia seutuhnya, bukan sekedar manusia tuntas nilai ulangannya.
4.Integralisasi model pembelajaran.
Memasukkan nilai luhur agama kedalam Jiwa kepribadian, harus mulai bergeser dari sekedar informasi ceramah kepada pengalaman dan pelibatan langsung peserta didik, sehingga nilai agama tidak di doktrinasikan oleh guru namun dialami, dirasakan dan dilakukan dengan suasana hati peserta didik, sehingga agama tidak dirasakan sebagai dongeng tetapi dirasakan sebagai nilai yang dirasakan dan diyakini kebenarannya.
Dengan penerapan integralisasi pendidikan agama ini, maka tujuan pendidikan agama tidak tergadaikan sekedar mendapatkan ketuntasan nilai agama, namun agama menjadi dirasakan , dialamai dan diyakini yang pada akhirnya akan membentuk pribadi”solih”, semoga. (Drs.Saifudin Zuhri.M.Pd,I, Guru MTSN 16 Jakarta )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar